EVALUASI
ini adalah hasil evaluasi yang dilakukan oleh semeton qta terhadap KMHD swastika taruna.. Semoga evaluasi ini dapat menjadi masukan sehingga dapat lebih baik ke depannya. Kami tunggu komentar dari semeton sekalian.
———evaluasi———–
Om Swastiastu,
Saya adalah pemuda Hindu yang dibesarkan dalam dinamika keorganisasian bernuansa Khatolik (Universitas Sanata Dharma adalah salah satu universitas katholik milik Jesuit), merasa sangat prihatin ketika kembali terjun kedalam organisasi Hindu di kampus yang dikenal dengan nama KMHD (Komunitas Mahasiswa Hindu Dharma) setalah kira-kira 3 tahun saya tinggalkan. Saat itu alasan saya meninggalkan KMHD adalah saya merasa tidak dapat berkembang dalam organisasi itu. Namun ketika tahun ke-4 kuliah saya, saya merasa aneh karena kenapa KMHD yang biasanya punya acara paling tidak 1 kali dalam setahun di kampus sama sekali tidak muncul batang hidungnya. Setelah saya cari informasinya ternyata kegiatan mereka saat itu berupa sembahayang bersama di pura, hanya itu. Sebagai salah satu komunitas yang diperhitungkan di kampus diawal saya kuliah ini merupakan suatu kemunduran, dan saya sangat prihatin dengan kondisi ini dimana saya merasa pernah jadi bagian dari keluaraga itu. Ketika saya berbincang dengan kakak angkatan yang dulu adalah pengurus KMHD, ia sampai bilang bahwa KMHD saat ini hidup segan mati pun tak bisa. Ada apa ini??
Robbins (1994) menyatakan bahwa organisasi adalah suatu kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif secara terus-menerus untuk mencapai tujuan bersama atau sekelompok tujuan. Berdasarkan definisi tersebut, KMHD merupakan suatu manifest kesatuan pemuda Hindu di Universitas Sanata Dharma. Dalam pelaksanaannya, organisasi ini sudah berjalan sebagai suatu kesatuan yang masih terdapat sedikit masalah berupa adanya masalah internal; yaitu masalah individu yang terbawa masuk ke dalam organisasi. Koordinasi dalam organisasi kurang berjalan dengan baik, hal ini tidak lepas dari kopetensi individu dalam kepengurusan yang kurang berpengalaman dalam menjalankan organisasi. Tidak adanya pendampingan dari pengurus sebelumnya dan tidak adanya acuan yang jelas dalam menjalankan organisasi turut menyumbangkan masalah dalam permasalahan koordinasi. Kepengurusan KMHD saat ini tidak memiliki AD/ART sehingga batasan dalam menjalankan organisasi menjadi kabur. Menurut pendiri KMHD, AD/ART (sebenarnya) telah dibuat dan diserahkan ketika pergantian kepengurusan, namun kenyataannya hal itu tidak terjadi pada kepengurusan saat ini. Hilangnya AD/ART tersebut turut berdampak pada kaburnya tujuan organisasi. Dalam hal partisipasi, semua anggota mampu berpartisipasi dengan baik. Hal ini terbukti dengan tetap berjalannya organisasi meskipun terdapat banyak masalah esensial organisasi yang dialami.
Dalam elemen komunikasi, dalam hal ini penekanannya pada komunikasi verbal, sender kurang mampu memilih bahasa (channel) yang dapat dimengerti oleh semua anggota kelompok (yaitu bahasa Bali). Pemilihan channel sudah cukup baik, hanya saja bahasa yang dipilih (terkadang) kurang dapat dipahami oleh semua anggota kelompok. Masalah dalam elemen komunikasi ini muncul tidak lepas dari ketidakmampuan receiver menggunakan bahasa Bali. Selain itu, terdapat ketidakpahaman anggota kelompok terhadap konteks pembicaraan ketika berkomunikasi. Misalnya, saat rapat yang (semestinya) pembicaraan bersifat formal, ternyata pembicaraan yang berlangsung tidak jauh berbeda dengan pembicaraan ketika sedang mengobrol dengan teman ketika suasana santai (non-formal).
Banyaknya ketidakjelasan yang sebenarnya merupakan pondasi berjalannya organisasi KMHD memberi imbas pada pengelolaan organisasi, termasuk ketika organisasi KMHD mengadakan event. Event-event yang dilakukan KMHD sendiri merupakan media apresiasi anggota KMHD dimana event tersebut merupakan bentuk konkret dari kerja organisasi. Ketidakjelasan organisasi menyeret kepada ketidakjelasan dalam pelaksanaan event, dimana dominasi kultural (budaya Bali) mengambil alih yang lebih mementingkan kebersamaan daripada pembagian tugas sehingga berdampak pada kurang efisien dan efektifnya kerja organisasi.
Dengan kombinasi permasalahan yang ada di atas, event yang dilaksanakan menjadi rentan terhadap masalah dan pada akhirnya akan menimbulkan stress kerja pada anggota kelompok. Individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam penanganan stressnya, sehingga anggota yang tidak mampu menangani stress kerjanya akan mengalami penurunan motivasi sementara tidak ada mekanisme dalam organisasi yang mengakomodasi situasi seperti ini. Hal ini menjadi suatu yang bertolak belakang dimana ketika awal keanggotaan para anggota organisasi memiliki motivasi yang relatif tinggi, akan tetapi kemudian terus mengalami penurunan seiring dengan berjalannya waktu. Hal ini dapat dilihat dari frekuensi keikutsertaan dalam rapat rutin KMHD dimana (biasanya) anggota baru lebih banyak muncul di awal dan mengalami pengurangan jumlah peserta rapat setelah beberapa waktu. Fenomena seperti ini dapat menjadi indikasi bahwa kepuasan kerja yang didapat anggota nyaris tidak ada. Dalam hal komitmen organisasi, terlebih pada komitmen individu yang berkaitan dengan harapan individu terhadap organisasi, dapat dilihat ketika organisasi tidak mampu mengakomodasi hal-hal tersebut, maka komitmen organisasi luntur dengan sendirinya. Munculnya rasionalisasi untuk absensi oleh anggota kelompok baik itu voluntary absenteeism ataupun involuntary absenteeism menunjukkan adanya pergeseran prioritas individu terhadap organisasi dimana organisasi KMHD menjadi (seolah-olah) dianak-tirikan karena anggota lebih memprioritaskan kegiatan dari organisasi lain.
Berdasarkan hal diatas saya menyarankan :
Pengurus KMHD melakukan Orientasi Tengah Tahun (OTT), untuk mengevaluasi kinerja organisasi dan merumuskan langkah-langkah penanganan masalah.
Menyusun AD/ART oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalam organisasi dimana AD/ART ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang saat ini dan rencana perkembangan organisasi.
Merubah paradigma dan pencitraan KMHD yang semula Balisentris menjadi lebih universal tanpa mengurangi nilai-nilai Hindu yang mendasari organisasi.
Melakukan pelatihan-pelatihan, semisal pelatihan kepemimpinan.
Meningkatkan frekuensi kegiatan yang dapat menarik peran serta seluruh anggota organisasi.
Analisis dan saran yang jauh dari sempurna ini semata-mata demi kemajuan KMHD dan kemajuan kita bersama.
Om Santi, Santi, Santi Om.

————————–by adi (banteng)
masukan yang sangat-sangat bagus…dan memang itulah yang kita perlukan…dari apa yang (maaf) anda tuliskan tersebut,saya sndiri yang pernah mengalami menjadi seorang ketua telah berusaha megubah pardigma-paradigma tersebut..bahkan sejak saat saya baru menjadi anggota baru sekitar 1 semester..memang sangat sulit,untuk mengubah kmhd seperti apa yang anda katakan..banyak sekali kendala \yang saya alami,terutama tentunya kendala yang paling utama adalah pribadi atau yang anda sebut individu itu sendiri…sayang sekali kesadaran hati dari masing-masing pemuda hindu msh kurang.disamping itu memang dari orang2 di kmhd sndiri terlalu egois untuk mau menerima pendapat dan mau mengubah pandangan2 sebelumnya…seperti misalnya hindu yang terlalu balisentris..kenapa hal itu bisa terjadi???ya itu tadi karena paradigma orang2 kmhd yang notabene mayoritas orang bali…yang maaf menurut saya sangat2 primitif dan menunjukkan fanatisme kedaerahan…apalagi kita sebagai kaum muda yang merupakan kaum pembaharu…kemudian masalah yang lain adalah pribadinya.banyak pemuda2 hindu kita yang tidak bisa membedakan mana mslh pribadi dan mana kepentngan untuk organisasi…sangat2 menyedihkan,padahal secara logika orang2 yang masuk kmhd adalah orang yang lulus perguruan tinggi.dan orang yang sudah masuk PT pada umumnya berusia diatas 17 tahun yang (katanya) sudah dewasa…aneh ga sech…?!!!!yeah itulah pemuda kita saat ini…secara wacana memang gampang,tapi bisakah hal sangat baik yang telah anda katakan itu bisa terlaksana???hanya bisa dijawab oleh diri kita masing2…saya secara pribadi hanya bisa mengajak,mari perbaiki kmhd dimulai dari diri sendiri…
rahajeng
—————–by gusmank (TIF 2005)
). Namun bobot ini semakin berkurang ketika saya membaca dengan seksama apa yang telah saudara tulis yang disebut sebagai evaluasi. Hal-hal yang tampak sederhana namun bersifat prinsipal telah saudara abaikan, membuat saya mempertanyakan kredibilitas saudara dalam memberikan suatu masukan yang membangun. Apakah karena ketidaktahuan? Atau karena salah tulis ?? sungguh sayang euy…. Anda penasaran ??? saya berikan bukti: KMHD (Komunitas Mahasiswa Hindu Dharma). Sudah benarkah anda menulis kepanjangan dari KMHD?????????? Harap hubungi pengurus terdekat sehingga memperoleh sdikit pencerahan!
Terima kasih atas pendapat yang cukup menarik dari saudara tentang KMHD Swastika Taruna. Mungkin pendapat saudara cukup membuat panas petinggi-petinggi dan penglingsir-penglisir KMHD Swastika Taruna. Saya sdikit tapi tidak terlalu sedikit memberikan tanggapan tentang pendapat saudara. Berkenaan dengan pendapat saudara itu saya mencoba memberikan tanggapan dengan style standard saya bercanda tapi serius, sentil sana sentil sini dan yang tersentil harap bijaksana. Bagi saya pendapat saudara mengandung unsur yang cukup berbobot untuk dipikirkan, semoga saja saudara tidak lekas tua dibuatnya (hehehe… mohon maaf jika selera humor saya agak sedikit berlebihan
Beruntunglah anda telah menyadarinya yang anda tuangkan dalam baris-baris akhir dengan kalimat, “Analisis dan saran yang jauh dari sempurna ini….”.
Kemudian anda mengatakan, “Dalam elemen komunikasi, dalam hal ini penekanannya pada komunikasi verbal, sender kurang mampu memilih bahasa (channel) yang dapat dimengerti oleh semua anggota kelompok (yaitu bahasa Bali). Pemilihan channel sudah cukup baik, hanya saja bahasa yang dipilih (terkadang) kurang dapat dipahami oleh semua anggota kelompok. Masalah dalam elemen komunikasi ini muncul tidak lepas dari ketidakmampuan receiver menggunakan bahasa Bali. Selain itu, terdapat ketidakpahaman anggota kelompok terhadap konteks pembicaraan ketika berkomunikasi”. Masalah bahasa memang pelik. Sdikit bercerita (playsback ne cenk!!!) Saya orang bali, menghabiskan sebagian besar hidup saya di Bali namun ketika saya kuliah di jogja terdapat perbedaan yang agak sdikit extream bagi peradaban saya (agak sdikit berlebihan bolehlah…). Tak lain adalah masalah bahasa. Dalam hampir setiap pergaulan baik di organisasi, perkuliahan maupun pergaulan-pergaulan yang saya kategorikan membuang sedikit waktu atau semacam just 4 fun n laugh menggunakan bahasa yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Bukan bahasa inggris saudara, bukan pula mandarin tapi bahasa jawa saudara-saudara.. Pernahkan anda terpikir ketika mereka mengolok-olok atau mengatakan hal penting kepada saudara dengan bahasa yang tidak saudara mengerti??? Bagaimana perasaan anda?? Perlahan tapi pasti saya mencoba beradaptasi dengan peradaban mereka. Hasilnya?? Saya mulai mengerti peradaban mereka. Cuma sebagai contoh untuk analogi. Kbetulan saudara berada di suatu komunitas yang anggotanya sebagian besar orang Bali, maka perlakuan yang saudara dapatkan adalah suatu hal yang wajar. Tidak usah dibesar-besarkan! Ambil hikmahnya saja. Bukankah ada seorang ahli yang mengatakan kalau seorang manusia sanggup menggunakan 5 bahasa maka ia telah menggunakan lebih dari 2% dari kemampuan otaknya. Nanti kalau sudah lulus kuliah kan bisa bahasa bali, bahasa daerah saudara dan bahasa indonesia, tinggal kekurangannya lagi 2 dilengkapi ajah, gtu aja kok repot. (maaf sebelumnya saya lupa nama pendapat ahli itu, kalau ingin lebih tahu bersurfing ria ajah di internet biar ngga ngrepotin!!).
Nambah lagi yach…;) Saudara mengatakan, “Ketidakjelasan organisasi menyeret kepada ketidakjelasan dalam pelaksanaan event, dimana dominasi kultural (budaya Bali) mengambil alih yang lebih mementingkan kebersamaan daripada pembagian tugas sehingga berdampak pada kurang efisien dan efektifnya kerja organisasi ”. Hmnn….. berapa banyak saudara mengenal orang Bali??? Berapa banyak dari mereka yang saudara kategorikan memiliki kultural seperti di itu??? Sdikit saya berbagi ilmu sejarah dan kewarganegaraan dengan saudara. Kebersamaan sudah ada dan melekat dalam diri manusia nusantara (yang sekarang diberi nama Indonesia) ini sejak dulu kala. Anda bisa lihat dari peninggalan-peninggalan yang ada baik berupa bangunan maupun karya sastra. Ada saja yang menceritakan bagaimana suatu kebersamaan dan pembagian tugas mampu menjawab tantangan yang ada di setiap Zamannya masing-masing. Prinsip kebersamaan inipun diterapkan sebagai salah satu sila dalam Pancasila yang notabene adalah dasar negara kita (tentu anda tidak lupa khan???). Lalu bagaimana dengan kultural Bali??? Sdikit cerita, di Bali dahulu ada sebuah kerajaan bernama Mangupura (mungkin anda lebih mengenalnya dengan nama Kerajaan Mengwi). Kerajaan ini sanggup menguasai Blambangan (kalau ngga salah di Banyuwangi) berkat kebersamaan yang dibangun yang bernuansakan kekeluargaan dengan sekutu-sekutunya dan juga pembagian kerja yang jelas yang merupakan implementasi dari taktik perang. Hingga mereka mendapat gelar mengueng kesaktianne (bisa diartikan terkenal karena kesaktiannya). Bagaimana dengan orang bali kini??? Masihkah kultur itu ada??? Saya jawab masih. Suksesnya Bali Recovery yang merupakan program untuk mengembalikan citra pariwisata Bali di mata dunia internasional pasca bom Bali I dan II merupakan salah satu contoh kebersamaan dan pembagian tugas yang jelas diantara para pelakunya. Jika itu terlalu sulit untuk dicerna, ambillah contoh yang lebih sederhana. Ketika ada piodalan di suatu pura di Bali, pengurus pura akan memberikan pembagian tugas kepada masyarakat adat yang terikat dengan pura tersebut. Misalnya yang paling sering dan tradisional adalah kaum wanita mejejaitan dan kaum pria membuat sate, lawar dan sebagainya. Itu dilakukan tentu saja dengan kebersamaan tanpa itu anda bisa mengira-ngira sendiri apa yang terjadi. Kesimpulannya, saya merasa anda tidak fair tentang masalah ini. Dan saya yakin orang-orang yang anda maksud (yang anda analogikan sebagai semua orang Bali dalam hal ini diwakili dengan kata kultur bali) adalah orang-orang yang tidak memiliki kecakapan di bidangnya. Jika orang yang tidak mempunyai kompetensi di suatu bidang tertentu dan ia dipaksa atau memaksakan diri di bidang itu maka tunggulah saat kehancuran itu tiba. Jika pendapat saya ini benar, maka tidak hanya kultur Bali bahkan mungkin seluruh dunia seperti itu.
Selebihnya pendapat saudara yang lain saya acungi jempol. Sepertinya saudara adalah seorang yang cukup mengenyam asam garam rimba perorganisasian dan saran-saran dari saudara sungguh menawan untuk dibaca. Saya salut dengan orang-orang yang berani seperti anda, anda memberikan fakta, mengutarakannya, mencoba menganalisisnya dengan literatur anda yang masuk akal, dan tak lupa saran-saran yang begitu menyejukkan di tengah keringnya mata air KMHD Swastika Taruna.
Hebat